Dugaan Janggal Dalam Kematian Wayan Mirna Salihin

Aduayam303.net – Suasana di meja lima puluh tujuh itu mendadak gaduh pada Rabu sore, 6 Januari lalu. Seorang wanita berkulit putih mendadak kejang-kejang. Mulutnya mengeluarkan busa, matanya melotot ke arah atas. Buru-buru tiga orang pelayan menyambangi meja itu. Satu pelayan mengusap bibir wanita itu karena terus mengeluarkan busa.

Sementara, yang lain mencoba membantu menenangkan. Namun salah seorang diantara wanita duduk di meja itu tak terlihat panik, dia justru berteriak mempertanyakan kopi di atas meja yang telah diminum rekannya itu. “Dia teriak sama manajer, ini minuman ditaruh apa kok teman saya sampai begini,” ujar seorang pelayan Kafe Olivier dirahasiakan namanya mengetahui kejadian itu saat berbincang dengan kami beberapa waktu lalu. Awalnya wanita itu diduga mengidap epilepsi.

dugaan-janggal-kematian-si-kembar-misteri-kematian-mirna-2

Belakangan setelah diketahui, nama wanita yang kejang-kejang itu adalah Wayan Mirna Salihin, 27 tahun. Karena rekannya mempertanyakan kopi yang disediakan, pihak Kafe Olivier akhirnya mengamankan gelas kopi diminum Mirna. Salah seorang pegawai Kafe menurut pelayan itu sempat mencicipi Es Kopi Vietnam yang dituding sebagai penyebab wanita itu kejang-kejang. Hasilnya, pelayan itu juga muntah-muntah. Bau kopinya berbeda dan menyengat hidung.

“Teman saya muntah-muntah,” ujar Pelayan itu.

Karena badannya terus kaku, Mirna akhirnya dibawa ke sebuah Klinik di Gedung itu. Dia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Abdi Waluyo untuk dilakukan pertolongan, namun sayang nyawa wanita itu tidak tertolong. Dia tewas setelah sebelumnya kejang-kejang mengeluarkan busa dan dalam kondisi kaku. Pihak Kafe Olivier tempat Mirna sebelumnya kejang-kejang sudah berupaya membawa korban untuk segera dilakukan pertolongan.

Menurut pelayan itu, tidak ada yang aneh dengan kopi diminum oleh Mirna. Sebab, semua pelayanan penyediaan telah memenuhi standar operasional untuk menjamu konsumen. Apalagi, Es Kopi Vietnam dipesan untuk korban, memang disajikan langsung dan diaduk dalam bentuk jadi di atas meja pengunjung. “Kalau es Vietnam memang begini menyajikannya, langsung di depan pelanggan,” ujar pelayan itu menuturkan.

Adalah Jessica Kumala Wongso, orang disebut pelayan itu sempat ngotot menunjuk gelas kopi diminum Mirna. Jessica juga berdasarkan kode pemesanan adalah orang yang memesan tempat dan minuman untuk Mirna dan Hani. Dua orang itu menurut keterangan Kepolisian hadir selang hampir sejam setelah kopi maut itu dipesan oleh Jessica.

Kasus kematian Mirna usai meminum Es Kopi Vietnam di Kafe Olivier memang ramai beberapa minggu ini. Apalagi, setelah Kepolisian melakukan otopsi pada tubuh korban, ditemukan adanya kandungan racun berbahaya. Hasil forensik pada tubuh korban ditemukan kandungan sianida di dalam hati dan lambung. Kasus ini kemudian bergulir hingga dugaan jika korban tewas dibunuh.

Berdasarkan hasil rekonstruksi ulang dilakukan Kepolisian dengan menghadirkan saksi-saksi, kronologi tewasnya di Mirna usai menyeruput Es Kopi Vietnam sama seperti dituturkan oleh pelayan Kafe. Dalam rekonstruksi digelar pada Senin 11 Januri lalu, Hani rekan yang datang bersama korban menuturkan jika Mirna kejang-kejang tak lama setelah menyeruput kopi.

Dalam kondisi gaduh itu, seorang pelayan kemudian mendatangi meja tempat di mana mereka duduk. Pelayan itu menurut Hani langsung mengelap busa di mulut Mirna. Sementara tiga orang pelayan lelaki lain membantu mengangkat tubuh Mirna ke atas kursi roda. Mirna kemudian dibawa ke klinik di gedung itu.

Saat dibawa ke klinik itu, dokter yang kebetulan bertugas mempertanyakan riwayat kesehatan korban. Dokter sempat bertanya, apakah korban memiliki riwayat penyakit epilepsi. Hani kemudian langsung menghubungi suami Mirna, Arief Sasongko. Kepada Arief, Hani mengabarkan tentang kondisi Mirna jika dia mengalami kejang-kejang dan tidak sadarkan diri.

Arief menyarankan agar Mirna diberikan teh hangat, namun karena tidak berani, Arief langsung menuju ke klinik di mana Mirna dibawa. “Terus aku bilang enggak berani, dia sudah kejang terus mulutnya berbusa. Akhirnya suami Mirna bilang ‘oke ke sana’,” tutur Hani. Sayang setelah dibawa ke Rumah Sakit terdekat, Mirna tidak tertolong. Dia tewas.

Belakangan setelah kasus ini ramai menjadi perbincangan, pihak Kepolisian kemudian merayu keluarga korban agar jasadnya segera di otopsi. Apalagi Kepolisian juga tidak bisa menyimpulkan kematian korban berdasarkan hasil Visum. Mirna memang menurut keterangan keluarga tidak memiliki riwayat penyakit. Atas saran itu juga akhirnya Kepolisian diberi kewenangan mengautopsi jasad Mirna.

Dari hasil otopsi dalam lambung korban ditemukan kandungan racun sianida. Kepolisian menduga Mirna tewas keracunan. Berangkat dari hasil otopsi itu, kemudian pihak Kepolisian memanggil saksi-saksi termasuk Jessica dan Hani, rekan korban yang terakhir bersama Mirna sebelum tewas.

Jessica, orang yang disebut memesan Es Kopi dan juga saksi kunci tewasnya Mirna sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan Kepolisian. Selain Jessica, Hani juga turut dimintai keterangan untuk mengungkap misteri kematian Mirna. Selain dua rekannya, Kepolisian juga meminta keterangan pegawai Kafe Oliver, orang tua Mirna dan suaminya untuk melengkapi berkas pemeriksaan.

Pada kamis pekan kemarin, Arief suami Mirna mendatangi Mapolda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. Dia datang bersama dengan kembaran Mirna, Sendy Salihin. Namun keduanya menolak berkomentar terkait hasil pemeriksaan.

Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya yang menangani kasus ini juga belum menentukan siapa tersangka dalam kasus misteri kematian Mirna. Sampai saat ini, Kepolisian masih menunggu hasil forensik dan sample kopi yang diminum Mirna sebelum akhirnya tewas. “Jadi kami tunggu dokumennya, karena kan keterangan ahli. Keterangan ahli tertuang dalam berita acara dokumen hasil forensik, nah itu kami tunggu,” ujar Komisaris Besar krishna Murti kamis pekan kemarin.

aduayam303

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *